Potensi Talas untuk Perkuat Ketahanan Pangan Indonesia

0 Pengunjung | Pertanian dan Pertanahan | Perkebunan dan Kehutanan | 2020-11-17
SHARE : |

Pandemi Covid-19 telah menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai adanya kerentanan dalam ketersediaan pangan. Salah satu upaya yang telah dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan adalah dengan mengembangkan pertanian perkotaan (urban farming). Masyarakat Indonesia mulai banyak yang menanam tanaman sayuran di pekarangan atau di atap rumah mereka.

Akan tetapi, langkah itu belum cukup. Perlu juga dilakukan penganekaragaman pangan dengan ragam variasi tanaman penghasil karbohidrat untuk dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Salah satu tanaman pangan yang berpotensi untuk terus dikembangkan di Indonesia adalah talas.

Guru Besar ipb University dari Fakultas Pertanian, Prof Dr Edi Santosa, mengatakan bahwa dari sisi keunggulan, tanaman talas memiliki nutrisi yang lebih lengkap dibandingkan dengan umbi-umbian yang lain. Menurutnya, talas mengandung protein dan mineral, serta memiliki indek glikemik (potensi meningkatkan gula darah) yang relatif lebih rendah.

Lebih lanjut, Edi menjelaskan bahwa talas termasuk tanaman yang bandel karena daya adaptasi ekologinya lebih luas dan lebih fleksibel dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya. Proses produksi talas terbilang mudah karena hanya membutuhkan sedikit air dan cukup dengan pupuk kandang. Talas dapat ditanam tanpa pestisida dan pupuk pabrik sehingga biaya inputnya akan jauh lebih murah bagi petani kecil dibandingkan dengan komoditas lain. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Edi, satu pohon talas dapat menghasilkan umbi dengan berat lebih dari satu kilogram. Tingkat produktivitas talas mencapai 40 ton per hektar. Dengan harga talas Rp5.000 per kilogram, maka petani dapat meraih pendapatan hingga Rp200 juta per hektare. Saat ini, Edi sedang mencari talas yang memiliki umur panen lebih cepat sehingga produktivitasnya lebih tinggi.

Dalam hal produksi talas dengan kapasitas yang lebih besar, perlu adanya dukungan hilirisasi dari sisi pemasaran dan industri pengolahannya.

"Harapannya talas bisa menjadi tanaman penting untuk daerah-daerah yang rawan perubahan iklim, menjadi pilar rumah tangga untuk menaikkan pendapatan serta dapat menjadi aktivitas industri di skala rumah tangga. Pilihan varietas terus dikembangkan," kata Edi.

Edi mengatakan, saat ini koleksi ragam jenis dan varietas talas sudah dikumpulkan di IPB University, Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT), serta Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen). "Kita usahakan agar keragaman genetik itu bisa kita kembalikan ke petani. Sehingga petani secara riil terlibat dalam perakitan varietas secara mandiri, yang biasanya kita sebut on farm conservation dan participatory breeding," ucap dia.

Saat ini, Edi bersama dengan Malaysian Agriculture Research and Development Institute (MARDI), Filipina, Fiji dan didanai oleh Food and Agriculture Organization (FAO) melalui Centre of Agriculture and Bioscience (CAB) Internasional tengah membangun konsorsium talas sebagai pangan masa depan guna mengantisipasi perubahan iklim. 

"Yang kita kembangkan adalah talas-talas yang tidak gatal dan cocok dengan lidah Indonesia. Secara potensi, IPB University punya koleksi talas yang banyak. Kami kumpulkan dari berbagai daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sebagainya. Kita sudah punya akses yang bagus, lalu kita lakukan percobaan-percobaan di lapangan," ungkap dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan hortikultura itu.

Edi menegaskan bahwa talas menjadi sebuah kekayaan alam Indonesia yang belum terlalu mendapat perhatian dari banyak pihak. Padahal menurutnya, talas dapat berperan penting untuk menjaga ketahanan pangan dan menumbuhkan sektor perekonomian Indonesia.

- Tag : Pemerintah

- Penulis : Netmedia

- Editor : Netmedia

- Foto By : Netmedia


  • KKP akan Bangun Pusat Pembibitan Mangrove di Mempawah
  • Kemenkeu: Sektor Pertanian Pahlawan Perekonomian Indonesia
  • Wujudkan Ketahanan Pangan, Pemprov DKI Manfaatkan Kawasan RTH
  • Mentan Dorong PPL Miliki Kemampuan Baca Agroklimat
  • Pasok Tandan Buah Sawit, Omzet BUMDes Ini Rp15 miliar per Bulan
  • Talas, Si Tanaman 'Bandel' yang Bisa Jadi Kunci Ketahanan Pangan Indonesia
  • Indonesia ekspor cabai kering 21 ton ke Pakistan
  • UU Cipta Kerja Diharapkan Beri Kemudahan dan Perlindungan Bagi UMKM
  • Dorong Ekspor, Kementan Latih Budidaya Krisan Good Agriculture Practices
  • Stok Akhir Tahun Menjadi Saldo Awal Neraca Gula Tahun 2021
  • Dukung Ketahanan Pangan, Kalteng Kembangkan Tanaman Singkong
  • Kementan Optimalkan Fungsi Penyuluh Pertanian
  • Dukung Ketahanan Pangan, Satgas Yonif 413 Tanam Kacang Panjang
  • Kostratani Siap Dukung Budidaya Sistem Hidroponik
  • Siaga Musim Tanam, Distributor Diimbau Lakukan Penebusan Pupuk Bersubsidi
  • Sulawesi Utara Ekspor Kelapa Parut ke Empat Negara Senilai Rp4,99 miliar
  • Jatim Masuk Tiga Besar Pengekspor Periode Januari-Oktober 2020
  • Transaksi Kartu Tani Tertinggi se-Jateng, Pemkab Batang Dapat Penghargaan
  • Mentan Paparkan Program Korporasi Pertanian
  • Mentan Sebut Pemerintah Desa Berperan Penting dalam Pembangunan Pertanian